<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-35377894</id><updated>2011-12-14T18:35:42.802-08:00</updated><title type='text'>Catatanku</title><subtitle type='html'>Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Rinaldi Munir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11252484440836102088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35377894.post-741364366078024068</id><published>2007-03-04T22:57:00.000-08:00</published><updated>2007-03-04T22:59:54.588-08:00</updated><title type='text'>Berpindah ke wordpress</title><content type='html'>Halo, saya tidak lagi menulis di blogspot.com, saya sekarang sudah pindah ke &lt;a href="http://rinaldimunir.wordpress.com"&gt;http://rinaldimunir.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan kunjungi web di atas ya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35377894-741364366078024068?l=rinaldimunir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/feeds/741364366078024068/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35377894&amp;postID=741364366078024068' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/741364366078024068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/741364366078024068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/2007/03/berpindah-ke-wordpress.html' title='Berpindah ke wordpress'/><author><name>Rinaldi Munir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11252484440836102088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35377894.post-117022059819178379</id><published>2007-01-30T21:02:00.000-08:00</published><updated>2007-01-30T21:16:38.690-08:00</updated><title type='text'>Hidup dan Masalah</title><content type='html'>Lama tidak menulis catatan, hari ini saya mulai lagi menarikan jari-jari di atas papan-ketik komputer. Biasalah, hari-hari kemaren cukup banyak masalah yang menyita waktu dan pikiran. Mulai masalah anak, masalah pekerjaan, sampai masalah studi S3 yang saya jalani. Masalah datang silih berganti. Selesai satu masalah, muncul lagi masalah baru.  Hidup itu merupakan seni menyeleaikan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, orang hidup pasti ada masalah. Kalau tidak ada masalah, bukan hidup namanya, tetapi mati. Dulu saya pernah membayangkan alangkah bahagianya rekan senior saya sesama dosen di sini. Dia sudah menyelesaikan S3 dan anak-anaknya sudah besar. Tentu sekarang dia bahagia dan bisa jalan-jalan kemanapun dia suka. Eh, ternyata dia bilang bahwa semakin besar anak maka ada saja masalah baru yang muncul. Oh... ternyata saya salah sangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, memang kebahagiaan itu tidak diukur dari ada atau tidak masalah dalam hidup kita, tetapi seberapa mampu kita bisa tetap tenang dalam menyelesaikannya. Setiap masalah pasti ada penyelesaiannya. Tidak usah khawatir, bukankah Allah SWT dalam surat Alam Nasyrah mengatakan bahwa "Sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, kita tidak perlu khawatir dalam hidup ini, karena Allah akan menolong hamba-Nya yang meminta pertolongan kepada-Nya. Yang penting tetap berusaha dan berdoa agar setiap masalah yang kita hadapi dapat kita selesaikan dengan baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35377894-117022059819178379?l=rinaldimunir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/feeds/117022059819178379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35377894&amp;postID=117022059819178379' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/117022059819178379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/117022059819178379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/2007/01/hidup-dan-masalah.html' title='Hidup dan Masalah'/><author><name>Rinaldi Munir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11252484440836102088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35377894.post-116737747220133775</id><published>2006-12-28T22:52:00.000-08:00</published><updated>2006-12-28T23:31:12.533-08:00</updated><title type='text'>Anak Bagaimana Orangtuanya Mendidik</title><content type='html'>Setelah punya anak, barulah kalian tahu bagaimana besar pengaruh pendidikan orangtua terhadap perilaku anak-anaknya. Saya punya anak yang sudah sekolah dan pra sekolah (serta satu lagi masih bayi).  Alhamdulllah, karena selalu dididik dengan baik, mulai dari ibadah agama, kejujuran, kesantunan, menghormati orang lain, sampai kebiasaan sehari-hari, maka anak-anak saya tumbuh menjadi anak yang baik, meski kenakalannya sebagai anak-anak pada umumnya tetap saja ada. Kadang saya mendapat cerita prihatin dari anak orang lain yang anaknya suka berkata kasar, eh ternyata karena di rumah dia selalu mendengar omongan kasar baik dari paman maupun kakek nenenknya.  Ada juga anak yang sejak kecil selalu diperlakukan secara kasar, maka setelah besar diapun bertindak kasar pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, anak itu gimana orangtuanya. Jika orangtuanya mendidik dengan baik, maka anak itu tumbuh menjadi orang yang baik. Sebaliknya jika anak dididik dengan buruk, maka dia tumbuh dengan perilaku yang buruk pula. Keluarga adalah benteng pendidikan terkecil di dalam negara. Jika keluarga baik, maka masyarakatnya baik. Jika masyaraknya baik, maka negara pun baik. Begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sehari-hari bertemu dengan banyak orang. Kita dapat melihat bagaimana sifat keluarga orang tersebut dari perilakunya. Seorang yang relijius, rajin shalat misalnya, maka keluarganya juga dari kalangan yang relijius. Seorang yang suka arogan, maka kemungkinan waktu kecil orangtuanya suka memperlakukannya secara kasar. Namun, kasus seperti ini tidak selalu demikian, tetap ada beberapa pengecualian atau anomali, namun persentasenya kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika ada seseorang yang dididik secara baik di dalam keluarga lalu setelah dewasa menjadi buruk, apa peyebabnya? Misalnya, sewaktu kecil seseorang tampak alim, tetapi setelah dewasa dia menjadi liar dan permisif (terhadap seks misalnya). Ternyata di luar keluarga, ada dunia lain yang dimasuki anak, yaitu lingkungan. Lingkungan pergaulan yang buruk dapat merusak keprbadian baik yang ditanamkan di rumah. Ibarat anak kijang yang masuk ke tengah kawasan srigala. Kerentanan ini sebenarnya dapat dikurangi jika orangtua tetap memantau perkembangan anak di lingkungan pergaulan. Kita sering mendengar bantahan dari keluarga yang anaknya terlibat narkoba. Anggota keluarga mengatakan bahwa si anak tidak pernah sekalipun memakai narkoba. Si anak selalu shalat 5 waktu, alim, dan patuh pada orangtua. Tapi, apakah orangtua tahu apa yang dilakukan anak setelah berada di luar rumah? Dengan siapa dia bergaul? Kemana saja dia pergi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci semua ini kembali pada agama. Penanaman agama sejak kecil (tidak sekadar hapalan atau rutinitas ibadah semata)  dapat membantu anak tetap kuat memasuki "kawasan srigala" sekalipun. Makanya tidak heran, orangtua di kampung lebih suka memasukkan anak-anak mereka ke pesantren atau madrasah ketimbang sekolah umum. Mereka berharap, pendidikan agama yang diperoleh anak di pesantren atau madrasah dapat membentengi anak dari pengaruh negatif. Intinya, mereka berharap anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang shaleh. Sementara kita di kota dihadapkan pada tuntutan yang bermacam-macam sehingga enggan memasukkan anak ke sekolah agama. Meski di sekolahkan ke sekolah umum, janganlah orangtua lalai menanamkan pendidikan agama dengan cara lain, minimal di dalam keluarganya sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35377894-116737747220133775?l=rinaldimunir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/feeds/116737747220133775/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35377894&amp;postID=116737747220133775' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116737747220133775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116737747220133775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/2006/12/anak-bagaimana-orangtuanya-mendidik.html' title='Anak Bagaimana Orangtuanya Mendidik'/><author><name>Rinaldi Munir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11252484440836102088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35377894.post-116582036345144391</id><published>2006-12-10T21:50:00.000-08:00</published><updated>2006-12-10T22:59:23.830-08:00</updated><title type='text'>Partai Baru untuk Apa?</title><content type='html'>Sabtu sore, 9 Desember kemaren, ketika pulang ke rumah, saya terjebak kemacetan di daerah Gasibu dan sekitarnya. Penyebab kemacetan rupanya karena acara ulang tahun sebuah partai baru yang merupakan pecahan dari partai besar. Pendukung partai yang jumlahnya diperkirakan 10.000 orang memadati lapangan kecil itu untuk melihat pimpinannya berorasi dan seperti biasa ada hiburan musik dangdut.  Mereka datang berombongan dengan puluhan bus dan mobil. Yang datang tidak hanya pemuda, tetapi juga nenek-nenek pun ikut serta. Bis-bis yang parkir dan ribuan orang yang berlalu lalang menyebabkan jalan di sekitarnya macet. Apalagi waktu itu usai hujan deras, macetpun makin menjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik melihat wajah-wajah kelelahan simpatisan partai baru ini yang masih berbasah-basah. Kebanyakan mereka memakai kaos bergambar logo partai. Wajah-wajah polos mereka menggambarkan simpatisan ini kebanyakan "didatangkan" dari desa-desa maupun dari daerah pinggiran Bandung. Saya sebut "didatangkan" karena saya meragukan mereka datang dengan kesadaran sendiri. Kenapa demikian? Lha, partainya saja belum jelas apakah bisa lolos ikut Pemilu 2009 atau tidak. Sebuah partai baru yang tidak dikenal dan bisa mendatangkan ribuan orang ke acara partai jelas mengundang pertanyaan bagaimana orang-orang itu bisa datang. Jawabannya mudah saja: yang penting ada uang. Zaman sekarang dimana kehidupan susah, siapa yang tidak tertarik dengan bayaran uang atau hadiah lain untuk mengikuti acara gelaran partai, kampanye, demo, dan sebagainya. Padahal boleh jadi mereka bukan pendukung partai tersebut, tetapi karena dibayar, diberi kaos, dikasih makan, dan pergi naik bus atau truk gratis, maka orang-orang desa yang polos ini mau bersusah-susah datang ke Bandung untuk menghadiri acara yang mereka sendiri tidak kenal pengurus partai  dan tokoh-tokohnya, tidak kenal programnya. Mereka tidak mengerti apa yang diorasikan oleh orang-orang penting di panggung. Yang penting mereka bisa gratis jalan-jalan ke Bandung, dapat uang, makan, dan berjoget ria dihibur oleh penyanyi dangdut yang sensual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman sekarang, membuat partai &lt;em&gt;gampang&lt;/em&gt;. Asal punya uang banyak, maka anda dapat membuat partai baru. Uang penting karena ia merupakan alat yang ampuh untuk menarik simpatisan. Makanya tidak heran pengurus atau tokoh partai baru kebanyakan adalah pengusaha atau orang kaya. Simpatisan bisa dicari asalkan ada uang. Di dalam politik seolah berlaku pameo "ada uang ada orang".  Ada orang yang langganan ikut kampanye, demo, atau apapun namanya, dari partai yang berbeda-beda. Hari ini dia ikut acara orasi partai A, minggu depan ia terlihat pada acara orasi partai B. Bahkan, tidak jarang pencarian orang ini dibisniskan. Ada orang yang punya usaha untuk memobilisasi massa ke acara sebuah partai. Berapapun jumlah orang yang anda minta untuk hadir di acara partai anda, mereka sanggup mendatangkannya. Tetapi tidak ada jaminan orang-orang tersebut akan memilih partai anda di dalam Pemilu nanti. Ini murni bisnis, Bung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai-partai baru ini, yang sebagian besar akan menjadi partai &lt;em&gt;gurem&lt;/em&gt; alias partai kerdil, tidak pernah belajar  dari kekalahan partai-partai kecil pada era Pemilu yang lampau. Di Indonesia, mayoritas orang memilih partai pada Pemilu lebih banyak ditentukan oleh irasionalitas ketimbang program partai. Mereka memilih partai karena alasan ideologis atau kepopuleran tokoh-tokoh patai. Partai-partai gurem yang tokohnya tidak dikenal jangan harap akan mendapat dukungan. Nama-nama partai yang aneh-aneh tidak menjamin orang mau memilih. Di Bandung bulan lalu, di sebuah hotel berbintang dikukuhkan pengurus DPD partai yang bernama Partai Pembela Rakyat Nasional (PPRN).  Di Jakarta, seorang artis mendeklarsikan partai yang bernama Partai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Partai-partai semacam ini diperkirakan akan menjadi &lt;em&gt;gurem&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, buat apa mendirikan partai?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35377894-116582036345144391?l=rinaldimunir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/feeds/116582036345144391/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35377894&amp;postID=116582036345144391' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116582036345144391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116582036345144391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/2006/12/partai-baru-untuk-apa.html' title='Partai Baru untuk Apa?'/><author><name>Rinaldi Munir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11252484440836102088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35377894.post-116556013748676572</id><published>2006-12-07T22:40:00.000-08:00</published><updated>2006-12-07T22:42:17.603-08:00</updated><title type='text'>Poligami Dilarang, Perzinaan Dibebaskan</title><content type='html'>Dikutip dari www.hidayatullah.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidayatullah.com--Menurut sejumlah sumber, dai kondang Abdullah Gymnastiar, alias Aa Gym, telah menikah lagi sejak tiga bulan silam. Sedangkan Maria Eva, perempuan yang berselingkuh dengan Yahya Zaini, mengaku bahwa perzinaan yang mereka lakukan berlangsung pada tahun 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, kedua berita itu sama-sama baru tersiar ke masyarakat pada awal Desember 2006 ini. Nampaknya Allah memang telah merekayasa demikian, untuk memperlihatkan bagaimana reaksi bangsa ini menanggapi poligami dan perzinaan. Mana yang pilih madu dan mana pula yang pilih racun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, setelah Aa Gym melakukan jumpa pers dan mengakui bahwa ia memang telah menikah lagi, mendadak sontak banyak perempuan yang bereaksi negatif. Tak cuma para aktivis gerakan feminisme, para ibu-ibu peserta pengajian Aa Gym, banyak yang mengutarakan kekecewaan dan kecamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nursyahbani Katjasungkana misalnya. Aktivis gerakan perempuan yang juga anggota Komisi III DPR dari FKB menyatakan mendukung gerakan penandatanganan Koalisi Perempuan Kecewa Aa Gym (KPKAG), yakni kelompok yang kecewa Aa Gym menikah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Sebagai kaum perempuan, kami tentu saja ikut sakit hati, poligami dengan alasan apa pun telah menyakiti hati kaum perempuan, " ujar Nursyahbani kepada wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revisi PP No. 10/1983&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta, juga ikut uring-uringan. Selasa (5/12), bersama-sama Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama Nazaruddin Umar keduanya menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono guna membicarakan PP10/1983 tentang pembatasan poligami. Dia ingin pembatasan itu tidak hanya bagi PNS dan anggota TNI/Polri, tapi juga berlaku bagi pejabat negara dan pegawai swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada wartawan Meutia mengungkapkan, Presiden menyatakan keprihatinannya dengan kasus poligami yang diterapkan tokoh masyarakat itu. Karena itu, Presiden, kata dia menyetujui untuk memperluas aturan itu. "Presiden mempunyai moral obligation (terikat secara moral) buat memperhatikan masyarakatnya," kata Meutia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Meutia, ide revisi PP 10/1983 ini, karena adanya keresahan masyarakat . "Titik tolaknya adalah keresahan masyarakat, terutama perempuan yang merasa tak diperlakukan tidak adil dalam perkawinan," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poligami Liar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, Meutia dan mereka yang anti-poligami, tidak merasa resah dan prihatin atas “poligami liar” yang dilakukan Maria Eva dan Yahya Zaini. Padahal, seperti diakui Maria, setelah berzina berkali-kali dengan anggota DPR dari Partai Golkar itu akhirnya dia hamil. Tetapi karena Yahya dan istri Yahya tak menghendaki anak dari hasil perbuatan haram mereka, Eva tidak berkeberatan untuk menggugurkan kandungannya. Maka pasangan tak bermoral itu kemudian pergi ke sebuah rumah sakit untuk membunuh janinnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Meutia juga tidak mengeluarkan kecaman atas tindakan pembunuhan janin itu. Apakah para perempuan tidak ikut merasa sakit hati dan diperlakukan tidak adil mengetahui Maria Eva dihamili di luar nikah lalu disuruh membunuh calon anaknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau andaikan mereka tidak menggugurkan kandungan, apakah kaum ibu itu tidak sedih dan sakit hati mengetahui kelak anak Maria Eva lahir tanpa bapak yang seharusnya bertanggung jawab atas nasib masa depan anak itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana pemerintah yang akan memperketat aturan poligami, ditanggapi keras oleh sejumlah tokoh umat Islam. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi misalnya menyatakan, poligami sebaiknya tidak diatur dalam sebuah peraturan atau perundang- undangan. Menurutnya, poligami adalah masalah pribadi seseorang sehingga tidak layak jika harus diurusi pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik mengurusi masalah kedisiplinan kerja dan peningkatan kinerja aparatur pemerintahan,”sebagaimana dikutip koran SINDO saat berada di Indramayu. Meski tidak secara gamblang menolak rencana revisi PP No 45/1990 ini, Hasyim Muzadi menyatakan, persoalan poligami sebaiknya dibiarkan berjalan secara alamiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan ribuan kader NU Indramayu dalam acara pelantikan pengurus cabang setempat, Hasyim menyampaikan bahwa poligami adalah pilihan seseorang. Artinya, poligami menjadi tanggung jawab masing-masing individu dengan berbagai konsekuensi yang akan diperoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan Hasyim, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin menilai, wacana poligami tidak perlu dikembangkan karena hanya akan membawa masyarakat pada perdebatan yang tidak perlu. Dia menyesalkan jika persoalan ini ditarik ke tataran politik atau kebijakan negara karena bisa kontraproduktif dalam upaya membangkitkan bangsa dari keterpurukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sementara, begitu banyak masalah bangsa yang strategis yang harus kita selesaikan, “imbaunya. Menurut Din, poligami adalah masalah khilafiyah (perbedaan pendapat) dalam Islam, terkait penafsiran terhadap ayat Al-Qur'an. Karena masalah ini adalah masalah keagamaan, dia mengharapkan semua pihak untuk berhati-hati menyimpulkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi Senayan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya tokoh NU dan Muhammadiyah, kalangan DPR juga bereaksi. Umumnya, para politisi di Senayan mengingatkan agar revisi yang dilakukan tidak sampai melanggar ketentuan agama, terutama agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Effendy Choirie mengingatkan agar jangan sampai ada peraturan perundang-undangan, termasuk peraturan pemerintah, yang melanggar ketentuan agama. "Jadi, kalau pun mau direvisi, jangan sampai kesannya melarang poligami. Soalnya, Islam memperbolehkan poligami," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau hasil revisi PP tersebut nanti malah terkesan membatas-batasi pelaksanaan poligami, dia menyerukan agar PP itu dihapus saja. "Agama sudah mengatur pelaksanaan poligami dengan lengkap. Jadi sudah nggak perlu lagi diatur-atur negara," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan yang sama juga disampaikan Wakil Ketua MPR AM Fatwa. Menurutnya, persoalan poligami harus dilihat pemerintah secara jernih dan objektif. "Jangan sampai pemerintah mengajari masyarakat untuk munafik dari hukum Allah," tuturnya. Poligami, katanya, mungkin bisa menjadi salah satu jawaban atas berbagai permasalahan sosial yang kini dihadapi. "Kita harus berpikiran terbuka," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah Baidlowi dari FPG mengakui bahwa poligami memang bisa menjadi jalan keluar darurat di tengah maraknya praktik perselingkuhan. "Dari sudut pandang itu, mungkin benar," katanya. Tetapi, menurut dia, tetap harus ada sisi-sisi lain yang dipertimbangkan, yaitu keadilan bagi keluarga secara keseluruhan. "Perlu benar-benar dipahami, yang dimaksud adil itu bagaimana," tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politikus Golkar Ferry Mursyidan Baldan menyampaikan bahwa poligami dalam konteks sosiologis masyarakat Indonesia bukanlah fenomena baru. "Tak masalah kalau praktik poligami mau diatur negara, tapi jangan menjadi seperti dilarang," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Al Muzammil Yusuf khawatir, jika poligami dilarang, justru akan menyemarakkan perzinaan. "Dia bukan diwajibkan, tetapi boleh. Artinya tidak harus, tetapi tidak juga dilarang. Tetapi ada prasyarat adil. Adil inilah yang perlu kita bahasakan lebih jelas. Adil dalam konteks masyarakat dimana hak wanita juga teperhatikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Nafsu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Aa Gym, pemerintah seharusnya melarang hal-hal yang dinyatakan jelas-jelas diharamkan dan tidak melarang sesuatu yang dihalalkan oleh agama. "Berantas dulu pelacuran dan perzinaan yang masih banyak di negeri ini," kata Aa Gym saat berceramah di Masjid Raya Batam, Selasa malam. Ia mengatakan setuju dengan PP yang sifatnya menertibkan, namun harus jelas apa yang ditertibkan. "Aa setuju saja agar tertib," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pimpinan Pesantren Darut Tauhid Bandung ini, poligami dibolehkan dengan syarat yang berat. Karenanya, ia tidak menganjurkan jamaahnya untuk beristri lebih dari satu. "Kalau tidak ada ilmunya, lebih baik jangan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pihak menilai, usulan merevisi UU Perkawinan hanya karena ada tokoh yang berpoligami itu sebagai sikap emosional yang lebih menonjolkan hawa nafsu semata. Menurut Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq, "Mereka itu memang tidak bicara atas agama, tapi atas hawa nafsunya. Ajaran Rasulullah tidak sebodoh dan senaif yang mereka tuduhkan, justru Rasul mengangkat derajat kaum wanita yang dinikahinya," tegas dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut anggota Komisi III DPR (bidang hukum) Patrialis Akbar, poligami justru melindungi hak-hak wanita. ''Jika poligami dilarang maka mereka akan menikah sirri (diam-diam). Istrinya jadi istri simpanan yang hak-haknya tidak dijamin. Jika poligami tidak dilarang, hak-hak perempuan dan anak-anaknya akan terjamin,'' tandas anggota Fraksi Partai Amanat Nasional itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Debat di SCTV dengan topik, "Poligami, Siapa Takut?" di Studio SCTV, Rabu (6/12) tadi malam, Yoyoh Yusroh dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengatakan, agama Islam membolehkan poligami agar umatnya terhindar dari praktek perzinaan. Karenanya, ia tak keberatan andai suaminya memutuskan untuk berpoligami. Karena poligami justru memuliakan hak perempuan dan anak-anaknya, sedangkan perzinaan merupakan penghinaan terhadap perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Fir’aun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq, meminta Presiden SBY untuk membuka mata hatinya, sehingga tahu mana yang seharusnya dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Presiden jangan buta hatinya. Yang perlu dilarang dan diberantas adalah pelacuran dan perselingkuhan, bukan poligami. Perzinaan itu harus dihukum berat, bila perlu dirajam," demikian kata Habib Rizieq dikutip situs bisnis.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam Islam halal menikahi dua, tiga atau empat perempuan. Kalau sampai Pemerintah melarang poligami, apa SBY mau jadi Fir'aun yang berani menentang Allah?" tantang Habib Rizieq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekecewaan yang dialami Habib juga dirasakan tokoh Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Lukman Hakiem. â€œIni artinya, zina yang haram difasilitasi Pemerintah, sedangkan poligami yang halal dikriminalisasi, "ujarnya dikutip koran Duta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poligami dan Kejantanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara pendukung poligami yang cukup menarik datang dari Ketua Pengurus PBNU, Masdar Farid Mas'udi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dikenal sebagai tokoh pendukung pemikiran liberal ini, dalam hal poligami ia berpendapat bahwa poligami adalah sesuatu yang natural alias alami sebagai penyeimbang banyaknya supply (jumlah perempuan yang ingin menikah) dengan demand (lelaki yang mampu menjadi suami).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jumlah perempuan selalu lebih besar dibanding lelaki yang layak menjadi suami. Poligami akan memperkecil ketidakseimbangan itu, “ ujar Masdar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, sebagaimana dikutip koran Duta Masyarakat, Kamis (7/12), semua yang jantan diciptakan dengan bakat poligami. “Meski begitu, tidak hanya menguntungkan lelaki. Lembaga poligami justru untuk memenuhi hajat hidup dan hal reproduksi perempuan, “ ujarnya.&lt;br /&gt;Seharusnya yang dilakukan pemerintah, kata Masdar, mendorong terjadinya poligami yang bertanggungjawab ketimbang mengkriminalisasikannya yang hanya akan memperbanyak monogami liar dan perselingkuhan yang menghinakan kaum perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Jalan Terus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Pemerintah SBY tetap jalan terus, melarang poligami dan membiarkan perzinaan, maka akan terulang kisah di sebuah negara sekuler di Afrika, seperti yang diceritakan Syaikh Abdul Halim Mahmud. Dikisahkan, ada seorang tokoh Islam yang menikah untuk kedua kalinya (berpoligami) secara syah menurut aturan syar`i. Namun berhubung negeri itu melarang poligami secara tegas, maka pernikahan itu dilakukan tanpa melaporkan kepada pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, intelejen sempat mencium adanya pernikahan itu dan setelah melakukan pengintaian intensif, dikepunglah rumah tokoh ini dan diseretlah dia ke pengadilan untuk dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Melihat situasi yang timpang seperti ini, maka akal digunakan. Tokoh ini dengan kalem menjawab bahwa wanita yang ada di rumahnya itu bukan istrinya, tapi teman selingkuhannya. Agar tidak ketahuan istri pertamanya, maka mereka melakukannya diam-diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pengakuannya, kontan saat itu juga pihak pengadilan atas nama pemerintah meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalah-pahaman itu. Dan memulangkannya dengan baik-baik serta tidak lupa tetap meminta maaf atas insiden itu. Ingin seperti itu? [Cholis Akbar, berbagai sumber]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35377894-116556013748676572?l=rinaldimunir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/feeds/116556013748676572/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35377894&amp;postID=116556013748676572' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116556013748676572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116556013748676572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/2006/12/poligami-dilarang-perzinaan-dibebaskan_07.html' title='Poligami Dilarang, Perzinaan Dibebaskan'/><author><name>Rinaldi Munir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11252484440836102088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35377894.post-116529923106062121</id><published>2006-12-04T22:13:00.000-08:00</published><updated>2006-12-04T22:13:59.436-08:00</updated><title type='text'>Antara Aa Gym dan YZ</title><content type='html'>Berita Aa Gym nikah lagi (poligami) hampir mendominasi semua media massa pekan ini. Tiada hari tanpa berita mengenai pernikahan yang membuat "heboh" masyarakat itu. Yang membuat berita pernikahan poligami ini heboh adalah karena Aa Gym adalah &lt;em&gt;public figure&lt;/em&gt; dan panutan masyarakat, khususnya ibu-ibu. Jadi, apa pun yang dilakukan oleh Aa Gym selalu menjadi sorotan, termasuk soal yang sensitif ini, yaitu poligami. Saking gencarnya berita pernikahan ini, Aa Gym sampai melakukan konferensi pers dua kali. Kemunculan istri keduanya bersama Teh Ninih di Daarut Tauhid Senin kemaren merupakan klimaks berita pernikahan ustad kondang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, poligami adalah hal yang biasa di dalam ajaran Islam. Islam membolehkan pria poligami asalkan bisa berlaku adil. Jika tidak berlaku adil, maka cukuplah istri itu satu saja. Praktek poligami sebenarnya sudah dilakukan banyak orang, mulai dari ulama, pejabat, sampai rakyat biasa. Pernikahan poligami saat ini umumnya selalu ditutup-tutupi, karena bagi sebagian masyarakat poligami dipandang sebagai aib dan memalukan. Pro kontra soal poligami masih terus berlangsung. Umumnya kaum perempuan menolak poligami, karena secara perasaan poligami cenderung dianggap merugikan istri pertama. Kaum feminis pun menganggap poligami sebagai praktek yang merendahkan harkat perempuan. Bagi kaum agamawan, poligami dipandang sebagai jalan keluar dari praktek perzinahan. Ketimbang berzinah atau selingkuh, maka lebih baik menikah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak hendak membela Aa Gym. Terus terang, saya bukan pengagum Aa Gym. Saya jarang mengikuti ceramah-ceramahnya atau membaca buku-buku tentang dirinya. Saya tidak mau terjebak dalam kultus individu. Cukuplah Allah yang dikultuskan, dan cukuplah Rasulullah sebagai panutan. Namun, karena Aa Gym sudah menjadi milik publik, maka sepak terjangnya tentu tidak lepas dari sorotan. Mau tidak mau saya pun ikut mencermati berita soal poligami Aa ini. Kebanyakan memang berkomentar miring dan sinikal. Diskusi di milis dosen ITB hampir selama beberapa hari ini menyoroti soal pernikahan Aa Gym. Isinya berneka ragam, mulai dari bisa memaklumi dari sudut pandang agama, menganggap itu hak Aa Gym, sampai pandangan sinis dan nakal. saya pikir, itulah risiko yang ditanggung seorang &lt;em&gt;public figure&lt;/em&gt; yang berpoligami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat berita pernikahan Aa Gym mendominasi, di seberang kota, di Jakarta, juga muncul berita yang menghebohkan. Seorang anggota DPR berinisial YZ (belakangan ditulis lengkap sebagai Yahya Zaini) terlibat skandal seks dengan seorang penyani dangdut yang tidak sukses, ME (belakangan ditulis lengkap sebagai Maria Eva). Rekaman video adegan intim YZ dengan ME terkuak dan menjadi konsumsi publik. Rekaman yang diambil dengan ponsel berkamera itu dibuat pada tahun 2004 pada waktu kampenaye Pemilu. Entah kenapa rekaman video itu beredar dan terungkaplah peerilaku amoral wakil rakyat itu. Gedung DPR pun kebakaran jenggot karena ulah seorang anggotanya. Perilaku YZ dianggap mencemakan DPR dan Partai Golkar (tempat ybs menjabat sebagai pengurus). Yang menarik adalah pengakuan ME, bahwa dia melakukan perzinahan itu tidak dalam keadaan menikah dengan YZ. Dengan kata lain, ME adalah wanita simpanan atau selingkuhan YZ. Yang mengagetkan, hubungan gelap itu membuahkan janin dan atas perintah istri YZ janin itu terpaksa digugurkan. Dua dosa yang dilakukan oleh pasangan ini, yaitu perzinahan dan pengguguran kandungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita simak latar belakang YZ. YZ adalah mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam. Di Partai Golkar ia menjabat sebagai Ketua Seksi Keagamaan. HMI dan Seksi Keagamaan berkonotasi orang-orang yang berperilaku islami, namun ternyata dalam prakteknya yang bersangkutan melakukan perbuatan yang bertolak belakang dengan simbol-simbol Islam yang melekat di dalam dirinya. Sungguh memalukan jika kita memahami perilaku orang-orang yang sok alim ini. Tidak ada jaminan orang-orang seperti ini sehari-harinya menampilkan perilaku yang islami juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara YZ dan Aa Gym jelas beda. Aa Gym menikahi istri kedua secara sah dan dibolehkan dalam agama, sedangkan YZ - karena takut ketahuan istri pertama - melakukan perselingkuhan dan perzinahan, bahkan sampai membuahkan janin, dengan wanita lain secara sembunyi. Maka, benarlah bahwa poligami itu lebih baik daripada berzinah. Yang satu halal, yang kedua haram. Tergantung kita memilih mau setuju yang mana. Hanya saja, di sebagian masyarakat kita berkembang pandangan yang sebaliknya. Poligami dipandang sebagai aib, sedangkan perzinahan dianggap sebagai "kecelakaan" saja yang suatu saat bisa dimaafkan (misalnya dengan pertobatan). Inilah pandangan masyarakat kita yang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He..he, saya sama sekali tidak ada niat dalam hati meniru Aa Gym soal hal ini. Masih banyak prioritas penting dalam hidup saya ketimbang melakukan poligami. Membesarkan anak dan mencari nafkah buat anak istri jauh lebih utama ketimbang memikirkan soal yang satu ini. Namun, saya tidak menentang poligami karena saya meletakkan poligami secara proporsional sesuai dengan hukum agama Islam, yaitu praktek yang diblehkan dalam agama dengan syarat yang sangat berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Aa Gym, biarlah dia menjalani pilihan hidupnya itu, dan mudah-mudahan saja keluarganya tetap sakinah. Kita hanya bisa mendoakan, karena mendoakan yang baik buat seseorang dianjurkan dalam agama. Sedangkan YZ, dia sudah mendapat hukuman sosial dari masyarakat atas perilaku amoralnya dan biarlah Allah saja yang menghukum baik buruknya dia di akhirat nanti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35377894-116529923106062121?l=rinaldimunir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/feeds/116529923106062121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35377894&amp;postID=116529923106062121' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116529923106062121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116529923106062121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/2006/12/antara-aa-gym-dan-yz.html' title='Antara Aa Gym dan YZ'/><author><name>Rinaldi Munir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11252484440836102088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35377894.post-116495738419326357</id><published>2006-11-30T23:09:00.000-08:00</published><updated>2006-11-30T23:16:24.453-08:00</updated><title type='text'>Oh, Siswa-siswi SMA Kita!</title><content type='html'>Waktu naik kendaraan pergi-pulang rumah-kampus, kita sering menemukan pemandangan yang membuat kita geleng-geleng kepala. Siswi-siswi SMA berboncengan naik sepeda motor dengan posisi menghadap ke depan. Posisi itu dimungkinkan karena mereka memakai rok abu-abu yang ukurannya minim (di atas lutut) dan nge-pas di badan. Dulu, jika perempuan duduk di boncengan motor posisinya adalah menyamping. Posisi tersebut demikian karena wanita memakai kain atau rok yang panjang sekaki. Duduk di boncengan dengan posisi menghadap ke depan dianggap tidak sopan. Tetapi, sekarang nilai-nilai sudah berubah, maka posisi duduk tersebut terlihat dianggap biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal seragam SMA. Anak-anak SMA sekarang, termasuk SMP, memakai seragam yang melanggar aturan sekolah umumnya. Rok pendek di atas lutut yang nge-pas dan baju yang dikeluarkan (tidak dimasukkan ke dalam rok atau celana). Siswa laki-laki lain lagi, mereka memakai celana panjang yang seakan-akan mau melorot, sebentar-sebentar celana ditarik ke atas. Kalau duduk di dalam angkot kelihatan celana dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selidik punya selidik ternyata mode seragam seperti itu banyak meniru perilaku artis sinetron yang memerankan anak sekolahan. Lihatlah sinetron yang hampir setiap malam tayang di TV. Sinetron sekolahan yang temanya itu itu saja: persaingan memperebutkan cowok atau cewek. Sama sekali perilaku mereka tidak menampilkan perilaku pelajar umumnya. Seragamnya saja sudah begitu: siswi memakai rok pendek di atas lutut, baju dikeluarkan. Begitu pula siswanya. Meskipun cerita sinetron menampikan lingkungan sekolah, namun mayoritas adegan di dalam sinetron adalah sikap sinikal, intrik, dan persaingan antara siswa/i dalam memperebutkan cinta. Sama sekali tidak ada adegan yang memperlihatkan siswa kerja keras mempersiapkan ujian, mengerjakan PR, atau diskusi mengenai materi pelajaran. Adegan malam hari tidak jauh-jauh dari dugem, pesta, kencan di kafe atau mal. Benar-benar sinetron yang tidak mendidik. Anehnya, masih ada pihak sekolah yang mengizinkan sekolahnya sebagai lokasi &lt;em&gt;shooting&lt;/em&gt; untuk sinetron sampah semacam itu. Gaya hidup seperti di sinetron itu pulalah yang ditiru oleh pelajar-pelajar kita. Ujung-ujungnya gaya hidup semacam ini mengarah ke &lt;em&gt;permisivisme&lt;/em&gt;, yaitu paham yang serba membolehkan. Makanya tidak heran kita mendengar kasus pelajar hamil di luar nikah, pelajar tertangkap membawa atau mengisap narkoba, atau survei yang menyebutkan bahwa sebagian besar remaja di perkotaan sudah berhubungan seks sebelum menikah. Astaghfirullah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sampai kapan penetrasi budaya negatif semacam ini terus berlangsung. Hanya pendidikan moral dan agama yang cukup yang bisa membentengi anak-anak muda dari pengaruh negatif kebudayaan. Saya tidak melihat ada cara lain untuk menyelamatkan generasi muda selain pendidikan dua nilai tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35377894-116495738419326357?l=rinaldimunir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/feeds/116495738419326357/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35377894&amp;postID=116495738419326357' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116495738419326357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116495738419326357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/2006/11/oh-siswa-siswi-sma-kita.html' title='Oh, Siswa-siswi SMA Kita!'/><author><name>Rinaldi Munir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11252484440836102088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35377894.post-116478522124897502</id><published>2006-11-28T22:46:00.000-08:00</published><updated>2006-11-28T23:27:01.306-08:00</updated><title type='text'>Ditilang Polisi dan Budaya Korupsi</title><content type='html'>Sudah beberapa kali saya ditilang polisi jalan raya karena melanggar rambu-rambu lalu lintas. Memang saya sering tidak awas mengendarai sepeda motor, kadang-kadang saya memasuki lajur jalan yang belum boleh dimasuki sebelum jam 16.00 (Jalan Bogor dan Jalan Jakarta di daerah Cicadas), atau berhenti melewati zebra cross pada persimpangan lampu merah (kejadian di pertigaan Dago-Cikapayang-Surapati, di bawah jalan layang Pasupati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa polisi yang menangani pelanggaran saya menggiring saya ke suatu tempat lalu menyebutkan pelanggaran yang saya lakukan beserta pasal-pasalnya. Setelah memeriksa SIM dan STNK, ujung-ujungnya polisi tersebut menanyakan apakah saya akan disidang di pengadilan atau "disini" saja. Saya pun mengerti maksud "di sini", artinya diselesaikan di jalan saja tanpa perlu melalui sidang pengadilan. UUD lah, apa lagi. Karena saya tidak memiliki banyak waktu, maka saya terpaksa memilih "di sini" saja, yaitu memebri polisi tadi sejumlah uang,  sebab jika memilih sidang di pengadilan prosesnya belum tentu cepat. Pembaca koran PR pernah menulis kekesalannya karena sidang pelanggaran lalu lintas yang ia jalani ternyata sering dibatalkan, mana tempatnya jauh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering merasa bersalah (kalau tidak bisa dibilang berdosa) jika menyelesaikan pelanggaran lalu lintas ini dengan memberikan uang kepada polisi tadi.  Secara tidak langsung saya telah membuat polisi tadi melakukan korupsi. Uang yang saya berikan belum tentu masuk ke kas kepolisian, tetapi masuk ke kantong polisi tadi, sebab tidak ada bukti kwitansinya.  Semua orang hampir mahfum bahwa demikianlah cara oknum polisi menambah penghasilan. Kita semua tahu bahwa gaji polisi tergolong kecil, maka seolah wajar jika sebagian oknum polisi mencari penghasilan di jalan.  Polisi yang baik tentu tidak akan menawarkan alternatif penyelesaian di jalan. Penyelesaian pelanggaran adalah di pengadilan. Untuk itu, pengadilan harus dibuat sedemikain rupa sehingga proses pengadilan mangkus dan cepat. Di zaman dimana waktu demikian penting jelas orang enggan membuang-buang waktu mengikuti pengadilan untuk persoalan pelanggaran sepele itu. Bahkan, kalau perlu pengadilan langsung di tempat, dengan bukti-bukti tertulis hasil sidang yang bisa dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya ada empat profesi yang perlu diberi pengahragaan (baca: gaji) yang tinggi agar tidak timbul penyalahgunaan jabatan (baca: korupsi, manipulasi, kolusi, dsv). Keempat profesi itu adalah guru, polisi, jaksa, dan hakim. Selama ini gaji orang-orang yang berprofesi empat macam tadi tergolong kecil, maka tidak heran kita sering mendengar pelanggaraan yang dilakukan oleh mereka yang ujung-ujungnya adalah menambah penghasilan. Kita pernah mendengar oknum guru sering memperjualbelikan nilai, membocorkan soal ujian, membuat ijazah palsu untuk siswa, atau menjual bangku murid baru. Kita juga sering mendengar oknum jaksa atau hakim yang bisa "dibeli" agar perkara hukum bisa diarahkan sesuai kepentingan terdakwa. Kalau mengenai polisi sudah tidak terhitung banyak penyimpangan yang  terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, gaji tinggi bukanlah satu-satunya cara menjamin seseorang bekerja dengan integritas  yang baik. Masih diperlukan ketahanan moral, agama, dan nilai-nilai positif lainnya agar seseorang terjaga integritas moralnya. Penanaman nilai-nilai moral dan agama itu penting ditumbuhkan sejak dini di dalam keluarga. Negara hanya akan baik jika elemen terkecil negara, yaitu keluarga, juga baik. Jika keluarga rusak, maka rusak pulalah negara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35377894-116478522124897502?l=rinaldimunir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/feeds/116478522124897502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35377894&amp;postID=116478522124897502' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116478522124897502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116478522124897502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/2006/11/ditilang-polisi-dan-budaya-korupsi.html' title='Ditilang Polisi dan Budaya Korupsi'/><author><name>Rinaldi Munir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11252484440836102088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35377894.post-116434103051036283</id><published>2006-11-23T20:00:00.000-08:00</published><updated>2006-11-23T20:03:50.516-08:00</updated><title type='text'>Mal Cicadas dan Pedagang yang Tergusur</title><content type='html'>Di daerah Cicadas, Bandung, tepatnya di jalan Kiaracondong, sedang dibangun mal baru yang bernama Bandung Trade Mall (BTM).  Lokasi BTM menempati bekas Pasar Cicadas. Pasar Cicadas dulunya cukup besar dan menampung ratusan pedagang tradisionil, kebanyakan berjualan kebutuhan dapur. Terus terang saja, seperti pasar tradisonil lainnya, Pasar Cicadas kumuh dan kotor. Jika hari hujan maka pasar menjadi becek dan tidak nyaman untuk berbelanja. Melihat kondisi pasar yang kumuh, reot, dan mengganggu keindahan kota, maka Pemkot Bandung menggusur pasar itu dan menawarkannya kepada pengusaha besar untuk membangun pasar modern, yaitu BTM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah ditebak, penggusuran pedagang dari pasar tersebut menimbulkan gelombang protes karena nasib mereka pasti akan terancam dan kehilangan mata pencaharian. Tetapi Pemkot tampaknya tetap bergeming pada pendiriannya. Bayangan memperoleh pajak besar dari pengusaha mal dan uang siluman lainnya menyebabkan Pemkot tidak mendengar jeritan pedagang pasar lama. Dengan iming-iming bahwa pedagang pasar lama diprioritaskan menempati mal, maka pembangunan mal tetap berjalan terus. Sebagai tempat penampungan sementara, maka para pedagang pasar lama dipindahkan ke bekas pasar Super Bazaar yang sudah bangkrut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat penampungan sementara nasib para pedagang itu tidak lebih baik dari tempat lama. Tempat yang tidak strategis dan sepi pembeli membuat para pedagang tersebut frustasi. Akhirnya, mereka pun kembali menggelar dagangan di sepanjang jalan mulai dari Matahari Dept. Store hingga di depan BTM yang sedang dibangun. Jalan yang sudah sempit itu semakin sempit karena para pedagang memakan setengah badan jalan. Kemacetan setiap pagi pun tidak terhindarkan. Sepenggal jalan Kiaracondong itu menjadi semrawut dan kotor. Pembeli, pedagang kakilima, dan mang-mang becak bercampur baur meramaikan badan jalan di tengah hiruk pikuk klakson kendaraan yang meminta jalan. Entah sampai kapan kondisi ini berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sering terjadi bahwa pembangunan pasar-pasar modern seperti mal dan plaza akan menyengsarakan pedagang kecil. Mereka terus dipinggirkan dan nasib mereka semakin tidak menentu. Yang diuntungkan tentu saja pengusaha besar dan Pemerintah Kota. Tidak semua warga kota membutuhkan kehadiran mal. Pasar-pasar tradisionil tetap diperlukan karena sebagian besar masyarakat kita berada pada strata ekonomi menengah ke bawah yang mempunyai daya beli rendah. Seharusnya Pemkot justru meremajakan pasar tradisionil tersebut dan membangun pasar yang lebih layak. Mal dan plaza sudah terlalu banyak di Bandung jadi tidak perlu ditambah lagi. Pasar tradisionil tetap punya kekhasan yang tidak dipunyai pasar modern. Di pasar tradisionil kita masih bisa melakukan tawar menawar dan hubungan antar orang yang lebih manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji bahwa pedagang lama diprioritaskan menempati mal baru tidak seluruhnya benar. Harga kios baru yang super mahal tentu mencekik leher pedagang lama. Tidak semua mereka mampu membeli kios baru. Bahkan yang menyedihkan, para pedagang lama ini yang kebanyakan menjual barang-barang basah ditempatkan di lantai basement yang pengap, gelap, dan tidak strategis. Contoh ini sudah terjadi di Pasar Baru Bandunng, pedagang basahan ditempatkan di lantai basement yang untuk mencapainya tidak semudah lantai-lantai lainnya. Pintu masuknya pun hanya beberapa. Lokasi yang tidak strategis menyebabkan pengunjung sepi, sangat kontras dengan lantai-lantai di atasnya yang mempunyai elevator dan penyejuk udara serta ramai dengan pengunjung.Begitulah yang terus terjadi di negeri ini. Pembangunan yang tidak berpihak pada rakyat kecil menyebabkan rakyat kecil terus terpinggirkan. Hidup mereka semakin susah saja. Mereka hanya menjadi penonton di tengah pembangunan yang terus berlangung. Yang kaya semakin kaya, seangka yang miskin tetap saja miskin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35377894-116434103051036283?l=rinaldimunir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/feeds/116434103051036283/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35377894&amp;postID=116434103051036283' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116434103051036283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116434103051036283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/2006/11/mal-cicadas-dan-pedagang-yang-tergusur.html' title='Mal Cicadas dan Pedagang yang Tergusur'/><author><name>Rinaldi Munir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11252484440836102088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35377894.post-116358120285685758</id><published>2006-11-14T23:57:00.000-08:00</published><updated>2006-11-15T01:00:02.906-08:00</updated><title type='text'>Berhenti Bertanya Adalah Bencana</title><content type='html'>Anak saya yang nomor dua usianya baru 5 tahun lebih, masih duduk di TK besar, tetapi dia suka sekali bertanya ini dan itu. Setiap saya bawa dia jalan-jalan naik kereta api, bus, motor, atau taksi, maka sepanjang jalan mulutnya tidak pernah berhenti bertanya tentang objek yang dilihatnya. Misalnya, mengapa mobil yang di depan lebih kencang dari taksi?  Mana yang lebih panjang bus Primajasa dengan bus DAMRI? Mengapa kereta api jalurnya dua? Mengapa bus berjalan di jalur kanan? dan sebagainya. Tiada kesempatan bagi saya untuk istirahat sejenak di dalam kendaraan karena harus menjawab pertanyaan bocah ini. Barulah kalau dia &lt;em&gt;capek&lt;/em&gt; bertanya maka dia akan tertidur sendiri di dalam kendaraan, tetapi setelah bangun dia akan mulai meluncurkan &lt;em&gt;seabreg&lt;/em&gt; pertanyaan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedapat mungkin saya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi kadang-kadang kalau saya tidak bisa menjawabnya atau masa menjawab, saya jawab asal-asalan saja. Misalnya mengapa mobil kijang yang di depan larinya kencang, ya saya jawab karena bensinya banyak. Eh, saya sadar ini jawaban salah, sebab ketika anak saya melihat mobil di belakang berjalan lebih lambat daripada taksi kami, dia langsung berkomentar  begini: "Yah, mobil di belakang bensinnya tinggal sedikit makanya pelan". Duh, tentu bukan itu alasannya, bisa jadi karena sopirnya ingin pelan saja (kata saya dalam hati).  Sejak itu saya selalu memberikan jawaban yang sekiranya masuk akal bagi anak kecil dan dapat dimengerti olehnya, tentu saja jawaban tersebut bukan jawaban &lt;em&gt;ngaco&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata orang, anak yang suka bertanya menunjukkan tingkat kecerdasan si anak. Mudah-mudahan saja demikian, karena kakaknya sebaliknya, lebih banyak diam dan jarang bertanya. Sebagai orangtua, kita harus menumbuhkan kebiasaan bertanya pada anak. Kadang-kadang ada orangtua karena merasa capek meladeni pertanyaan anak maka dia menghardik si anak dengan kata-kata "udah &lt;em&gt;ah&lt;/em&gt;,  nanya melulu".  Akibatnya fatal, si anak akan mulai berhenti bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anak berhenti bertanya itu berarti bencana. Sifat kritis anak bisa hilang. Dia akan menyimpan sendiri pertanyaan itu di dalam hati tanpa keinginan untuk mencari jawabannya karena ia takut dimarahi.  Sampai dewasa pun dia akan diliputi keraguan -bahkan ketakutan- untuk bertanya, khawatir pertanyaannya itu bisa memunculkan kemarahan orang yang ditanya. Jadi, dia lebih memili diam saja atau sedikit berkomentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman Orde Baru, rakyat dibungkam untuk mengajukan pertanyaan kritis kepada Pemeringahan Soeharto, apalagi mempertanyakan kekayaan, hak istimewa, dan monopli keluarga Cendana yang begitu hebat mencengkeram kekayaan bumi pertiwi.  Salah-salah bertanya bisa dianggap subversif, ujungnya-ujungnya bisa masuk bui.  Pak Harto paling sering mengadakan sarasehan dengan para petani atau peternak. Publik sudah menduga bahwa acara sarasehan yang  sering disiarkan oleh TVRI sudah direkayasa oleh panita acara. Setelah Pak Harto selesai berbicara panjang lebar soal pertanian dan disimak secara takzim oleh para petani, maka Pak Harto pun mempersilakan petani mengajukan pertanyaan. Sepertinya petani yang bertanya sudah diatur siapa orangnya dan pertanyaan apa yang akan diajukan. Ini penting sebab jika tidak begitu bisa muncul pertanyaan liar yang mengarah kepada kekuasaan Pak Harto (apalagi acara tersebut disiarkan secara langsung dan diulang lagi pada malam hari).&lt;br /&gt;Sekarang di zaman reformasi, kekakuan bertanya seperti itu sudah hilang. Orang bebas berdemonstrasi, mengajukan pendapat, bertanya ini dan itu. Tapi reformasi  sering dianggap orang sudah kebablasan, akibatnya banyak pihak yang membonceng era kebebasan ini dengan berekpresi  yang tidak mengindahkan norma dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke masalah bertanya tadi. Di kelas-kelas sekolah dari SD sampai Perguruan tinggi kita sering menemukan  kelas yang "diam". Maksudnya, setelah guru atau dosen menjelaskan materi ajar jarang siswa yang bertanya. Ketika dosen di kelas menerangkan materi ajar, lalu dia mengatakan "ada pertanyaan?". Seisi kelas terdiam. Hanya satu dua yang bertanya, sebagian besar diam saja, entah karena dia sudah mengerti dengan apa yang diterangkan atau malu bertanya. Untuk kasus yang terakhir, yaitu malu bertanya, mungkin hal ini disebabkan pengalaman sejak masa kecil dimana anak-anak tidak diberikan iklim yang kondusif untuk bertanya (jika bertanya takut dibentak, misalnya).  Ini memang karakteristik orang timur yang tidak biasa mengekspresikan pertanyaan secara verbal, berbeda dengan di Barat dimana sejak kecil anak-anak sudah dilatih kritis mengungkapkan pendapat secara lisan dan tidak segan-segan bertanya (seperti kita lihat pada film-film Hollywood).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun bertanya itu penting, namun yang juga harus diperhatikan adalah kualitas pertanyaan. Untuk bertanya orang harus banyak membaca. Membaca tidak harus dari buku, tetapi juga dari melihat fakta di lapangan, mengumpulkan bukti pendukung, mengumpulkan informasi dari pihak-pihak yang kompeten. Dari membaca itulah orang dapat mengajukan pertanyaan yang berbobot. Aneh jika seseorang bertanya sesuatu yang sebenarnya jawabannya sudah diketahui. Hal ini juga berlaku dalam dunia akademis. Mahasiswa harus banyak membaca bahan-bahan baik dari buku teks, jurnal, maupun materi dari internet. Setidaknya dari membaca itu timbul pertanyaan baru yang harus dipecahkan dan dicari jawabannya.  Inilah inti dari riset, yaitu apa masalahnya, dari situlah dicari jawabannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35377894-116358120285685758?l=rinaldimunir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/feeds/116358120285685758/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35377894&amp;postID=116358120285685758' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116358120285685758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116358120285685758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/2006/11/berhenti-bertanya-adalah-bencana.html' title='Berhenti Bertanya Adalah Bencana'/><author><name>Rinaldi Munir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11252484440836102088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35377894.post-116262210944800220</id><published>2006-11-03T22:30:00.000-08:00</published><updated>2006-11-03T22:35:09.456-08:00</updated><title type='text'>Mudik ke Padang</title><content type='html'>Lebaran tahun ini saya bersama keluarga mudik ke Padang dan Bukittinggi. Ke Padang ke rumah ibu dan ke Bukittinggi ke rumah mertua. Kami pulang setelah merayakan lebaran di Bandung. Oh ya, lebaran tahun ini terasa sumbing, pasalnya terjadi perbedaan hari raya antara dua ormas Islam terbesar di Indonesia: NU dan Muhammadiyah. Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal pada tanggal 23 Oktober 2006, sedangkan NU dan Pemerintah menetapkan lebaran tanggal 24 Oktober 2006. Di kalangan akar rumput terjadi kebingungan karena perbedaan itu, meskipun akhirnya perbedaan itu disikapi biasa-biasa saja dan tidak terjadi pertentangan. Mungkin karena orang Islam di Indonesia sudah biasa merasakan hari raya yang berbeda hari. Sebagian masyarakat shalat Ied pada tanggal 23 Oktober, sebagian lagi 24 Oktober. Saya akhirnya memilih shalat Ied pada tanggal 23 Oktober 2006 setelah menelpon ke Padang kapan shalat Ied di sana. Di Padang sendiri sebagian besar masyarakatnya berlebaran pada hari Senin 23 Oktober 2006 (mungkin karena Muhammadiyah sangat berpengaruh di kota ini), jadi saya sesuaikan saja dengan waktu shalat Ied di Padang agar mengucapkan selamat lebaran dengan keluarga di sana tetap pada hari yang sama (he..he. ada-ada saja alasan saya ini ya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjejakkan kaki di kota ini saya tidak melihat banyak perubahan. Memang banyak bangunan baru termasuk mal dan plaza, tetapi kehidupan terasa berjalan lamban. Kemiskinan mudah ditemukan di mana-mana di sudut kota. Orang-orang terlihat tidak begitu bersemangat, maklum lowongan kerja di kota ini sangat sedikit sementara tingkat pengangguran tinggi. Di Padang tidak banyak terdapat industri seperti halnya di Pekanbaru. Waktu saya ke Pekanbaru saya melihat kota ini sangat dinamis, ramai, dan terlihat bergairah. Maklum saja, di Pekanbaru dan sekitarnya terdapat banyak industri, mulai pertambangan minyak (Caltex), perkebunan kelapa sawit, pabrik pulp, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barulah di Bukittinggi saya melihat kehidupan yang bergairah. Maklum saja Bukittinggi adalah kota wisata dan perlintasan kendaraan dari selatan Sumatera menuju utara. Pasar-pasar di Bukittinggi ramai terus oleh wisatawan yang ingin berbelanja kerajinan khas seperti sulaman, bordiran, tenunan, maupun menikmati masakan minang asli seperti nasi kapau. Saya penasaran juga ingin mencoba seperti apa masakan nasi kapau Uni Lis di Pasar Atas Bukittinggi. Untuk diketahui, ketika Presiden SBY berkunjung ke Bukittinggi beberapa bulan yang lalu, ia tidak canggung-canggung berjalan dari Istana Tri Arga menyusuri lorong- lorong pertokoan Pasar Atas hanya untuk makan di rumah makan nasi kapau Uni Lis ini. Rumah makan Uni Lis ini hanya berupa kedai biasa yang sempit, tetapi entah kenapa SBY tidak sungkan makan nasi kapau di sana sampai berkeringat. Setelah saya coba makan di sana dengan dendeng balado, maka komentar saya adalah: cukup sekali ini saja makan nasi kapau Uni Lis karena rasanya pedaaaaasss sekali, lebih pedas dari sambal di Padang maupun di Bandung. Meskipun saya biasa makan masakan pedas, tetapi masakan Uni Lis ini luar biasa pedasnya (ah.. mungkin karena sudah lama di Bandung menikmati masakan Padang yang sudah disesuaikan tingkat kepedasannya sehingga saya sulit lagi beradaptasi dengan kepedasan cabe di Bukittinggi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong, pedasnya cabe di Bukittingi dan Kabupaten Agam memang melebihi rasa pedas cabe di kota dan kabupaten lain di Sumatera Barat. Makanya pengusaha keripik balado Christine Hakim di derah Pondok kota Padang menggunakan cabe dari Kabupaten Pasaman ketimbang cabe dari Bukittinggi dan Agam, karena cabe Pasaman tidak sepedas cabe Bukittingi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, mudik tahun ini membawa kesan tersendiri meskipun saya merasa masih ada yang kurang, karena saya tidak sempat ziarah ke makam ayahanda di bukit Seberang Padang. Ini karena saya harus membagi waktu berkunjung ke rumah-rumah saudara baik di Padang maupun di Bukittinggi sehingga waktu yang hanya 6 hari habis untuk kunjung berkunjung saja. Insya Allah saya akan ke sana lagi selagi ibu masih hidup di Padang. Jika ibu tidak ada lagi, mungkin semangat saya untuk mudik ke Padang akan mengendur. Bagi saya, orangtua adalah sumber inspirasi dan penambah semangat hidup. Kini hanya tinggal ibu saya di Padang mengisi hari-hari sepinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35377894-116262210944800220?l=rinaldimunir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/feeds/116262210944800220/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35377894&amp;postID=116262210944800220' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116262210944800220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116262210944800220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/2006/11/mudik-ke-padang.html' title='Mudik ke Padang'/><author><name>Rinaldi Munir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11252484440836102088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35377894.post-116047215728322941</id><published>2006-10-10T01:42:00.000-07:00</published><updated>2006-10-10T02:22:37.326-07:00</updated><title type='text'>Sop Buah dan Masyarakat Latah</title><content type='html'>Selain kolak, makanan/minuman apa yang paling diburu orang di Bandung pada saat puasa Ramadhan tahun ini? Jawabnya adalah "sop buah". Bagi pendatang baru, nama "sop buah" memang terasa asing, tetapi bagi warga Bandung sop buah sudah biasa. Sop buah tidak lain adalah kombinasi buah-buahan yang dipotong kecil seperti dadu, disiram dengan air gula, es batu, lalu ditambah susu kental manis. Dihidangkan pada sebuah mangkok. Jadilah minuman segar yang menyehatkan, lebih-lebih di bulan puasa yang panas tahun ini. Buah-buahannya cukup lengkap, mulai dari yang lokal sampai impor seperti semangka, melon, apel (impor), nanas, pir (impor), anggur, strawberi, timun suri, blewah, pisang, dan sirsak. Karena penambahan es, susu kental, dan air gula, maka buah-buahan tersebut seperti mempunyai kuah seperti kuah sop, sehingga dinamakan sop buah. Nama lainnya "es shanghai", tetapi entah kenapa nama ini kurang populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah siapa yang pertama kali mencoba berjualan sop buah dan entah darimana orang punya ide membuat minuman baru, tetapi yang jelas 3 tahun belakangan ini.  Dulu saya sering melihat penjual sop buah ini di depan Gasibu, hanya 1 orang pedagang, sekarang di Bandung terdapat puluhan bahkan ratusan penjual sop buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung memang kota yang masyarakatnya terkenal kreatif. Berbagai ragam karya seni, pakaian, sovenir, dan laian-lain termasuk makanan lahir dari kota ini. Berbicara mengenai ragama makanan, saya teringat kue &lt;em&gt;brownies&lt;/em&gt; kukus yang diproduksi oleh toko Amanda. Kue ini, yang lahir karena salah resep, menjadi terkenal dan merupakan ikon baru oleh-oleh Bandung selain &lt;em&gt;peuyeum&lt;/em&gt;, kue sus, roti begelen, dan roti molen. Banyak orang-orang Jakarta yang berkunjung ke Bandung memburu &lt;em&gt;brownies&lt;/em&gt; kukus.  Antrian pembeli di beberapa gerainya sampai berpuluh-puluh meter. Peluang bisnis ini ditangkap oleh beberapa pedagang kaki lima yang menjual &lt;em&gt;brownies&lt;/em&gt; kukus Amanda di pinggir-pinggir jalan, terutama jalan yang banyak toko &lt;em&gt;factory outlet&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum "latah" pun mulai menghinggapi banyak orang yang melihat kesuksesan &lt;em&gt;brownies&lt;/em&gt; Amanda. Bermunculanlah berbagai kue &lt;em&gt;brownies&lt;/em&gt; kukus dengan bermacam-macam merek, bahkan toko kue yang tidak berjualan &lt;em&gt;brownies&lt;/em&gt; kukus pun ikut-ikutan memproduksi kue &lt;em&gt;brownies&lt;/em&gt; kukus dengan berbagai rasa, mulai dari rasa pandan, rasa durian, bahkan ada &lt;em&gt;brownies&lt;/em&gt; yang dilapisi keju.  Nama "kukus" pun menjadi terkenal sehingga banyak orang mencoba membuat resep baru seperti tiramisu kukus, bolu kukus, &lt;em&gt;tart&lt;/em&gt; kukus, dan entah berapa macam lagi yang kukus-kukusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat budaya latah seperti itu, orang pun mulai bosan dengan &lt;em&gt;brownies&lt;/em&gt; kukus. Ini dapat dilihat gerai toko Amanda yang tidak lagi ramai seperti dulu.  Yang jelas, budaya latah sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia. Melihat orang lain sukses dengan bisnisnya, maka bermunculanlah puluhan sampai ratusan usaha yang serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat dua tahun yang lalu betapa populernya jajanan gorengan yang bernama "cimol" (aci digemol). Bermula dari  seorang pedagang, maka bermunculanlah banyak pedagang lain yang berdagang serupa. Sekarang makanan cimol sudah tidak populer lagi, sudah jarang ditemui pedagang yang berjualan jajanan yang tidak bergizi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun lalu di Bandung bermunculan rumah makan Sunda yang berbau nama kampung dengan cara penyajian yang beda dari yang lain, seperti RM Bumbu Desa, RM Dapur Cobek, RM Sambal Cibiuk, RM Rumah Nenek, RM Bawang Merah, dan sebagainya. Awalnya bermula ari RM Bumbu Desa yang sukes, lalu pengusaha lain pun latah meniru konsep serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang di Bandung populer jajanan yang bernama singkong keju. Jajanannya sederhana saja, singkong yang sudah direndam dalam larutan yang bercampur keju, ketika digoreng akan memberikan aroma dan rasa yang lain dari singkong goeng biasa. Nah,  bisa ditebak, kesuksesan pedagang singkong keju yang pertama (entah dimana) mebuat pedagang lain pun latah. Bisa ditebak nasibnya nanti seperti cimol itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moral dari cerita ini, kalau anda ingin  sukses, buatlah sesuatu yang beda dari yang lain, jangan membuat sesuatu yang sudah ada sebelumnya.  Kreatif, itu kuncinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35377894-116047215728322941?l=rinaldimunir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/feeds/116047215728322941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35377894&amp;postID=116047215728322941' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116047215728322941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/116047215728322941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/2006/10/sop-buah-dan-masyarakat-latah.html' title='Sop Buah dan Masyarakat Latah'/><author><name>Rinaldi Munir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11252484440836102088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35377894.post-115978022924434813</id><published>2006-10-02T02:07:00.000-07:00</published><updated>2006-10-02T02:16:47.710-07:00</updated><title type='text'>Memprogram itu Asik (Kalau Dinikmati)</title><content type='html'>Karena tuntutan profesi sebagai dosen, saya mengambil S3 lagi mulai tahun lalu. Tidak jauh-jauh, di ITB juga. Penelitian saya yang berhubungan dengan citra dan sekuriti (saya sungguh menyenangi kedua bidang ini) mengharuskan saya untuk coding lagi yaitu membuat program. Kali ini saya memprogram menggunakan MATLAB karena MATLAB sudah menyediakan infrastruktur yang kaya untuk pemrosesan citra dan sinyal digital (ada toolbox nya). Terus terang memprogram dengan menggunakan MATLAB adalah hal yang masih baru bagi saya. MATLAB sudah jamak digunakan mahasiswa dan dosen (serta peneliti) di bidang teknik, seperti Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Sipil, dan sebagainya. Di Informatika ITB, hampir tidak pernah mahasiswa kami menggunakan MATLAB karena mereka jarang mendapat tugas terkait komputasi teknik. Kebanyakan mahasiswa kami meggunakan kakas bertujuan umum seperti .NET, Java, Delphi, Visual C++, dan sebagainya. Lagipula, mereka dianjurkan membuat primitif fungsi sendiri ketimbang menggunakan fungsi built-in yang tersedia di dalam kakas (sembari belajar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak hendak menceritakan seluk beluk MATLAB, tetapi pengalaman perihal memprogram. Karena MATLAB baru bagi saya, maka saya tertantang untuk menguasainya dalam waktu cepat. Seperti jargon yang sering kita dengar bahwa keahlian tentang sesuatu hanya bisa diperoleh jika kita banyak mempunyai "jam terbang". Hal ini berlaku pula jika kita ingin mendalami sebuah kakas baru. Perlu waktu yang intensif untuk bisa menguasai pemrograman dengan kakas baru seperti MATLAB ini. Learning by doing mungkin cara yang paling efektif. Mencoba sendiri atau bereksperimen sendiri dapat meningkatkan daya serap penguasaan materi. Ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh William Glasser bahwa jika hanya membaca, maka hanya 10% saja materi yang bisa kita kuasai. Kinerja pembelajaran semakin meningkat jika kita mendengar, melihat, mendiskusikan dengan teman, dan jika melakukan eksperimen sendiri maka 80% dari materi pembelajaran dapat kita raih, dan 90% jika kita ajarkan kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda berkunjung ke Informatika ITB, anda akan melihat mahasiswa kami di lab-lab yang begitu asik memprogram atau mempelajari kakas pemrograman baru (seperti C#), platform baru (seperti .NET), dan sebagainya. Mahasiswa betah berlama-lama di lab karena memang resource yang tersedia dapat diperoleh dengan mudah (buku, piranti lunak). Keseriusan bereksperimen sendiri tidak membuat mereka melupakan aktivitas internet yang menyenangkan seperti chatting dengan Yahoo Messenger. Sambil memprogram ya chatting juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memprogram telah membius banyak orang, tidak hanya dari kalangan informatika saja. Mahasiswa dan dosen dari luar IF pun banyak yang melakukan kegiatan ini, bahkan sebagian mereka mungkin lebih mahir dari orang informatika sendiri. Bahkan seorang kolega di Elektro mengaku lebih menyukai memprogram ketimbang mengulik elektonika atau IC design yang merupakan bidang "lamanya". Mungkin perlu penjelasan mengapa banyak orang tertarik di bidang teknologi informasi khususnya mengembangkan program aplikasi. Teknologi informasi bagaikan gadis cantik yang dikerubuti banyak orang, tidak peduli latar belakangnya apa. Semua ini dapat dijelaskan namun penjelasan apapun akhirnya bermuara pada uang juga, istilahnya UUD (Ujung-ujungnya duit)) :-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35377894-115978022924434813?l=rinaldimunir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/feeds/115978022924434813/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35377894&amp;postID=115978022924434813' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/115978022924434813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35377894/posts/default/115978022924434813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinaldimunir.blogspot.com/2006/10/memprogram-itu-asik-kalau-dinikmati.html' title='Memprogram itu Asik (Kalau Dinikmati)'/><author><name>Rinaldi Munir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11252484440836102088</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
